KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

PERHATIAN:

Selamat datang di blog sederhana kami. Kapan lagi anda mendapatkan KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat Kedokteran hanya dengan donasi @ Rp. 25.000 / KTI Skripsi sistem pembayaran mudah hanya dengan transfer pulsa. Layanan ini akan tetap eksis.
BUKTI dari layanan kami: sampai hari ini, kami sudah melayani 515 pesanan dari seluruh Indonesia. Silahkan pesan sekarang juga..
Manfaatkan kunjungan anda karena mungkin anda tidak datang ke blog ini untuk kedua kali.

KOTAK PENCARIAN:

kesulitan dalam mencari judul KTI Skripsi Gunakan pencarian berikut:

Gambaran Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Obat Tradisional Bagi Ibu Nifas di BPS

Selasa, 10 Juli 2012

BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Sejak ratusan tahun yang lalu, nenek moyang bangsa kita telah terkenal pandai meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Beragam jenis tumbuhan, akar-akaran, dan bahan-bahan alamiah lainnya diracik sebagai ramuan jamu untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Ramuan-ramuan itu digunakan pula untuk menjaga kondisi badan agar tetap sehat, mencegah penyakit, dan sebagian untuk mempercantik diri. Kemahiran meracik bahan-bahan itu diwariskan oleh nenek moyang kita secara turun temurun, dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga ke zaman kita sekarang. Di berbagai daerah di tanah air, kita menemukan berbagai kitab yang berisi tata cara pengobatan dan jenis-jenis obat tradisional. Di Bali, misalnya, ditemukan kitab usadha tuwa, usadha putih, usadha tuju, dan usadha seri yang berisi berbagai jenis obat tradisional. Dalam cerita rakyat seperti cerita Sudamala, dikisahkan bagaimana Sudamala berhasil menyembuhkan mata pendeta Tambapetra yang buta. Demikian pula relief cerita Mahakarmmawibhangga pada kaki Candi Borobudur, menggambarkan seorang anak kecil yang sakit dan sedang diobati dua orang tabib. Salah satu relief lainnya, juga memperlihatkan kegiatan seorang tabib sedang meracik obat (Anonymous, 2009).
Di tengah-tengah serbuan obat-obatan modern, jamu dan ramuan tradisional tetap menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat kita. Tidak hanya masyarakat di pedesaan, masyarakat di perkotaan pun mulai mengkonsumsi obat-obatan tradisional ini. Diberbagai pelosok tanah air, dengan mudah kita menjumpai para penjual jamu gendong berkeliling menjajakan jamu sebagai minuman sehat dan menyegarkan. Demikian pula, kios-kios jamu tersebar merata di seluruh penjuru tanah air. Jamu dan obat-obatan tradisional, telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita. Keragaman obat-obatan tradisional di tanah air, telah memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, dan kesehatan bangsa kita. Negara kita menjadi salah satu pusat tanaman obat di dunia. Ribuan jenis tumbuhan tropis, tumbuh subur di seluruh pelosok negeri. Belum semua jenis tanaman itu kita ketahui manfaat dan khasiatnya. Kita hanya berkeyakinan bahwa Tuhan menciptakan semua jenis tumbuhan itu, pastilah tidak sia-sia. Semua itu pasti ada manfaatnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan konservasi sumber daya alam, agar jangan ada jenis tanaman yang punah. Kebakaran hutan bukan saja memusnahkan satwa dan fauna, tetapi juga menimbulkan polusi dan meningkatkan suhu pemanasan global. Jamu dan obat tradisional, sampai saat ini belum dikembangkan secara optimal. Produksi jamu dan obat-obatan tradisional lebih banyak diproduksi oleh homeindustry. Hanya sebagian kecil jamu dan obat-obatan tradisional yang diproduksi secara masal melalui industri jamu dan obat tradisional di pabrik-pabrik. Untuk meningkatkan kualitas, mutu, dan produk jamu serta obat-obatan yang dihasilkan oleh masyarakat kita, diperlukan kerjasama seluruh pihak yang terkait. Kerjasama itu dimaksudkan agar jamu dan obat tradisional yang dihasilkan dapat bersaing, baik di pasar regional maupun global. Beredarnya jamu dan obat-obatan yang tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan, akan merugikan konsumen. Di samping itu, secara ekonomi, beredarnya obat-obatan seperti itu justru akan merusak citra obat tradisional. Citra yang rusak akhirnya akan memukul produksi dan pemasaran obat-obatan tradisional, di dalam maupun di luar negeri. Pemerintah, terus berupaya melakukan pengawasan demi meningkatkan keamanan, mutu, dan manfaat obat tradisional. Hal ini dilakukan agar masyarakat terlindung dari obat tradisional yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Melalui penelitian dan pengembangan yang cermat dan teliti, jamu dan obat-obatan tradisional dapat diarahkan untuk menjadi obat yang dapat diterima dalam pelayanan kesehatan formal. Memang harus kita akui, bahwa para dokter dan apoteker, hingga saat ini masih belum dapat menerima jamu sebagai obat yang dapat mereka rekomendasikan kepada para pasiennya. Akibatnya, pemasaran produk jamu tidak dapat menggunakan tenaga detailer seperti pada obat moderen. Akhir-akhir ini, tampak adanya trend hidup sehat pada masyarakat untuk menggunakan produk yang berasal dari alam. Oleh karena itu, jamu dan obat-obatan tradisional perlu didorong untuk menjadi salah satu pilihan pengobatan. Jamu dan obat-obatan tradisional harus didorong pula untuk menjadi komoditi unggulan yang dapat memberikan sumbangan positif bagi meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kegiatan itu juga memberikan peluang kesempatan kerja, dan mengurangi kemiskinan (Anonymous, 2010).
Obat tradisional ini (baik berupa jamu maupun tanaman obat) masih banyak digunakan oleh masyarakat, terutama dari kalangan menengah kebawah dalam upaya pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan (kuratif), pemulihan kesehatan (rehabilitatif) serta peningkatan kesehatan (promotatif). Bahkan dari masa ke masa obat tradisional mengalami perkembangan yang semakin meningkat, terlebih dengan munculnya isu kembali kealam (back to nature) (Katno, dkk, 2004).
Purwati (2004) Mengatakan bahwa pada saat sekarang, kecenderungan dan kesadaran masyarakat semakin meningkat dalam penggunaan obat tradisional. Hal ini dikarenakan utuk mendapatkan cara yang lebih murah dan aman dibanding obat-obat moderen atau sebagai alternatif pengganti jika obat-obat moderen tidak dapat lagi memberikan kesembuhan untuk menanggulangi masalah kesehatan tertentu. Obat tradisional mendapat tempat tersendiri dihati masyarakat karena konsep back to nature yang ditawarkan memberikan kesan aman dikonsumsi seluruh keluarga. Minum obat tradisional sudah jadi kebiasaan dan khasiatnya diyakini ampuh sejak zaman nenek moyang. Apalagi jika obat-obatan itu didukung pengemasan yang baik, mudah didapat dan harganya murah.
Dibandingkan obat-obat moderen, memang obat tradisional memiliki beberapa kelebihan, antara lain : efek sampingnya relatif rendah, dalam satau ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek samping mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif (Katno, dkk, 2004).
Departemen kesehatan mendukung pengobatan tradisional yang berkembang di Indonesia, terutama untuk mengantisipasi harga obat yang mahal. Untuk itu telah terbit surat keputusan menteri kesehatan No. 0584/Menkes/SK/VI/1995 tentang pembentukan sentral pengembangan dan penerapan pengobatan tradisional (sentral P3T). saat ini sudah terbentuk 12 sentral P3T di 12 propinsi, satu diantaranya di DKI Jakarta yang berkedudukan di RSU. Dr. Cipto Mangunkusumo. Hari kesehatan nasional tanggal 12 November 1998 yang lalu pun bertemakan “kembali ke alam, manfaatkan obat asli Indonesia”. (Dalimartha, S. 1999).
Sebagai gambaran, nilai jual obat tradisional pada tahun 1992 didunia mencapai US $ 8 milyar , US $ 45 milyar pada tahun 2001 , dan dierkirakan akan terus meningkat menjadi US $ 5 triliun pada tahun 2005 . secara nasional permintaan obat tradisional cukup besar dan terus meningkat. industri obat tradisional indonesia dari tahun ketahun terus meningkat. Peningkatan jumlah industri obat tradisional tersebut signifikan dengan eningkatan total nilai jual produk obat asli indonesia didalam negeri , yang mana 95,5 milyar ruiah pada tahun 1991 meningkat hingga mencapai nilai 600 milyar pada tahun 1999 . Survey perilaku konsumen daam negeri menunjukkan 61,3% responden mempunyai kebiasaan meminum obat tradisional (Anonymous, 2009).
Melalui resolusi 1977 WHO menyatakan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak dapat merata tanpa mengikutsertakan pengobatan tradisional . Pengobatan tradisional dengan obat-obat tradisionalnya mempunyai latar belakang sosial bdaya masyarakat dan dapat digolongkan sebaga teknologi tepat guna karena bahan-bahan yang dipakai terdapat disekitar masyarakat itu sendiri , sehingga mudah didapat, murah dan mudah menggunakannya tanpa memerlukan peralatan yang mahal untuk mempersiapkannya (Agoes,A, 1996).
Dalam penelitiannya Muchtaruddin menemukan bahwa pemakai jamu lebih banyak wanita 54,6% berumur antara 24-25tahun, mempunyai pendidikan SD, bekerja sebagai petani atau nelayan. Sedangkan Moeryati Sudibyo menemukan bahwa ditapos 70,8% ibu menggunakan obat tradisional untuk pengobatan dan 29,9% untuk tujuan suportif untuk kesehatan tubuh dan sesudah melahirkan. Dengan uji statistik pengetahuan ibu merupakan faktor utama yang mempungaruhi penggunaan obat tradisional , disusul oleh ketersediaan dan kepercayaan (Agoes,A, 1999).
Atas dasar uraian diatas peneliti sangat tertarik untuk meneliti tentang gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat tradisional bagi ibu nifas di BPS Hj. Kecamatan Kabupaten .

B. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas peneliti ingin mengetahui bagaimana Gambaran Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penggunaan Obat Tradisional Bagi Ibu Nifas di BPS Hj. .

C. TUJUAN PENELITIAN
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat tradisional bagi ibu nifas
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat tradisional bagi ibu nifas ditinjau dari segi pengetahuan.
b. Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat tradisional bagi ibu nifas ditinjau dari segi kepercayaan.
c. Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan obat tradisional bagi ibu nifas ditinjau dari segi penghasilan.

D. KEASLIAN PENELITIAN
Sebelumnya Supardi (1997) pernah melakukan penelitian dengan judul Pola Pengobatan Sendiri Menggunakan Obat, Obat Tradisional dan Cara Tradisional serta Pengobatan Rawat Jalan Memanfaatkan Pengobatan Tradisional Di Lampung Selatan.

E. MANFAAT PENELITIAN
1. Manfaat untuk instansi/BPS
Sebagai bahan masukan bagi pemberi pelayanan kebidanan yang berada di BPS untuk dapat memberikan informasi yang benar tentang obat tradisional bagi ibu nifas.
2. Manfaat unutk Pendidikan
Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta menambah referensi buku di pendidikan, khususnya mengenai penggunaan obat tradisional bagi ibu nifas.
3. Bagi peneliti/mahasiswa
Mengembangkan wawasan dan pengetahuan mahasiswa tentang penggunaan obat tradisional bagi ibu nifas.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.249

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

0 komentar:

BELUM KETEMU JUGA, CARI LAGI YANG TELITI: