KTI SKRIPSI KEBIDANAN KEPERAWATAN KESMAS KEDOKTERAN

Kumpulan KTI SKRIPSI Kebidanan Keperawatan Kesmas Kedokteran ini bertujuan untuk membantu para mahasiswa/i kebidanan keperawatan kesehatan masyarakat dan Kedokteran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah dan Skripsi sebagai salah satu syarat dalam tugas akhir pendidikan. Kumpulan KTI Skripsi ini akan terus kami tambah, sehingga dapat memenuhi kebutuhan anda dalam mendapatkan contoh KTI Skripsi, jadi anda tidak perlu lagi membuang waktu dan biaya dalam mencari KTI yang anda inginkan.

Gambaran Sikap Wanita Dalam Menghadapi Perubahan Fisik Pada Masa Premenaopause

Senin, 09 Juli 2012

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Premenopause menjadi hal yang ditakutkan oleh wanita, karena banyak rumor yang mengatakan bahwa menuju kemasa ini wanita akan mengalami berbagai macam gejala yang tidak menyenangkan. Secara medis istilah premenopause adalah suatu kondisi fisiologis pada wanita yang telah memasuki masa penuaan yang ditandai dengan menurunnya kadar hormon estrogen ovarium yang sangat berperan dalam hal reproduksi dan seksualitas. (Siswono, 2008)
Perubahan premenopause yang terjadi sebelum berlangsungnya masa menopause yaitu sejak fungsi reproduksinya mulai menurun sampai timbulnya keluhan atau tanda-tanda menopause. Pada masa premenopause hormon progesteron dan estrogen masih tinggi, tetapi semakin rendah ketika memasuki masa premenopause dan post menopause. Keadaan ini berhubungan dengan fungsi indung telur yang terus menurun. Penurunan kadar estrogen tersebut sering menimbulkan gejala yang sangat mengganggu aktifitas kehidupan para wanita bahkan mengancam kebahagiaan rumah tangga. (Siswono, 2008)
Purwatyastuti (2008) mengemukakan bahwa sindroma premenopause dan menopause dialami oleh banyak perempuan hampir di seluruh dunia, sekitar70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57% di Malaysia, 18% di Cina dan 10% di Jepang dan Indonesia. Menurut data salah satu peneliti gejala yang paling banyak dilaporkan adalah 40% merasakan hot flashes, 38% mengalami
sulit tidur, 37% merasa cepat lelah dalam bekerja, 35% sering lupa, 33% mudah tersinggung, 26% mengalami nyeri pada sendi dan merasa sakit kepala yang berlebihan 21% dari seluruh jumlah wanita premenopause.
Perubahan yang dialami seorang wanita menjelang premenopause adalah perubahan fisik dan psikologis. Perubahan fisik yang terjadi meliputi vasomotor hot flashes, perubahan pada kulit, kekeringan vagina berkeringat dimalam hari, sulit tidur, perubahan pada mulut, kerapuhan tulang, badan menjadi gemuk dan perubahan psikologis pada masa premenopause meliputi mudah tersinggung, tertekan, gugup, kesepian, tidak sabar, tegang, lemas dan depresi, ada juga wanita yang merasa kehilangan harga dirinya karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka juga merasa tidak dibutuhkan lagi oleh suami dan anak-anak mereka serta merasa kehilangan feminitas karena fungsi reproduksi yang hilang. (Hurlock, 2008)
Untuk mengatasi gejala-gejala premenopause dan menghilangkan kecemasan dan kekhawatiran pada saat memasuki masa premenopause dan menopause adalah dengan kenali gejala-gejalanya dan atasi dengan bijak serta penting bagi wanita untuk sering berfikir positif bahwa kondisi tersebut merupakan sesuatu yang sifatnya alami. Tentunya sikap positif ini bisa muncul jika diimbangi oleh informasi atau pengetahuan yang cukup serta kesiapan fisik, mental dan spiritual yang dilakukan pada masa sebelumnya, “Masa lalu adalah masa kini dan masa yang akan datang” ketika masa ini datang keluhan-keluhan ketidaknyamanan maupun yang menyakitkan dapat dikurangi bahkan ditiadakan. (Purwatyastuti, 2008)
Oleh karena itu berdasarka pada masalah diatas maka peneliti terdorong untuk mengetahui bagaimana sikap wanita dalam menghadapi perubahan fisik pada masa premenaopause di Desa Kecamatan  Kabupaten

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana sikap wanita dalam menghadapi perubahan fisik pada masa premenopause di Desa Kecamatan Kabupaten

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui atau mengidentifikasi sikap wanita dalam menghadapi perubahan fisik pada masa premenopause di Desa Kecamatan Kabupaten

Manfaat Penelitian.
1. Manfaat Bagi Peneliti
Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pemehaman dan pengetahuan tentang sikap wanita dalam menghadapi perubahan fisik pada masa premenopause.
2. Manfaat secara praktis
Meningkatkan kualitas pengetahuan kesehatan khususnya wanita premenopause.
3. Manfaat Secara Teoritis
Penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengetahui secara spesifik mengenai wanita premenopause.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.210

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Wanita Usia Reproduksi Sehat Tentang Kontrasepsi Hormonal

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Program nasional dalam bidang kependudukan dewasa ini dilaksanakan dalam rangka kebijaksanaan peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat secara menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia. Oleh karena itu program nasional bidang kependudukan diarahkan pada bidang-bidang seperti : transmigrasi, peningkatan produksi pertanian, pembangunan industri dan keluarga berencana.
Keluarga berencana sebagai salah satu kebijaksanaan nasional bidang kependudukan dikoordinasikan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Sejak dicanangkan tahun 1970 Gerakan Keluarga Berencana dimaksudkan untuk mewujudkan norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Sejalan dengan arah tersebut, maka sasaran pembangunan keluarga berencana sekaligus mencakup pembangunan dan pengembangan institusi masyarakat dan keluarga demi tercapainya peningkatan kualitas hidup penduduk Indonesia berbasis kesejahteraan dan kemakmuran serta peningkatan kemampuan dalam bidang pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Kartoyo, 1999; 161)
Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan dan Pembangunan Sejahtera serta ditingkatkannya ruang lingkup gerakan keluarga berencana sebagai sektor tersendiri, yaitu sektor keluarga sejahtera, maka misi keluarga berencana menjadi semakin luas. Pengertian keluarga berencana menjadi suatu upaya peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Sebagai konsekuensi dan perluasan misi keluarga berencana tersebut, maka semua komponen dan perangkat yang terkandung didalam Gerakan Keluarga Berencana Nasional disesuaikan dengan memperluas ruang lingkup bidang garapan, salah satu diantaranya adalah dengan perluasan ruang lingkup materi yang mencakup ke dalam sub sistem pendataan Pasangan Usia Subur dan Peserta KB yang menjadi bagian terpenting dari Sistem Informasi Manajemen Berencana Nasional.(BKKBN, 2001 ; 1).
Paradigma terhadap Pasangan Usia Subur dan Peserta KB sebagai sub system Pendataan Pasangan Usia Subur dan Peserta KB dalam Gerakan Nasional Keluarga Berencana dikaitkan dengan bidang keluarga sejahtera yang cakupannya meliputi variabel-variabel seperti : pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, agama, keluarga berencana, interaksi dalam keluarga, interaksi dalam lingkungan, transportasi, tabungan, informasi, dan peranan dalam masyarakat. (BBKBN, 2001 ; 4).
Berdasarkan pada uraian di atas, maka kajian karya tulis ilmiah ini diarahkan pada variabel pendidikan yang di dalamnya meliputi pengetahuan usia wanita reproduksi sehat terhadap kontrasepsi hormonal, hal tersebut dianggap penting mengingat pengetahuan usia wanita reproduksi sehat terhadap kontrasepsi hormonal secara benar menentukan pencapaian target pengaturan kehamilan, pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Berdasarkan latar belakang di depan dapat dimaklumi bahwa kontrasepsi hormonal mampu berfungsi optimal sebagai alat kontrasepsi apabila akseptor memahami terhadap cara memilih kontrasepsi hormonal yang tepat, keuntungan dan kerugian kontrasepsi hormonal, dan efek samping kontrasepsi hormonal. Oleh karena itu, pengetahuan wanita usia reproduksi sehat tentang kontrasepsi hormonal menjadi tolak ukur keberhasilan akseptor dalam hal pengaturan kehamilan, pembinaan ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
Sehubungan dengan hal di atas, maka kajian karya tulis ilmiah ini di arahkan pada gambaran pengetahuan wanita usia reproduksi sehat tentang kontrasepsi hormonal di Desa Kecamatan Kabupaten .

Perumusan Masalah
Dengan petunjuk tersebut karya tulis ini diarahkan untuk menjawab pertanyaan ”Bagaimana gambaran pengetahuan wanita usia reproduksi sehat tentang kontrasepsi hormonal di Desa Kecamatan Kabupaten ?”

Tujuan Penelitian
Mengetahui gambaran pengetahuan wanita usia reproduksi sehat tentang kontrasepsi hormonal di Desa Kecamatan Kabupaten .

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian diharapkan :
Manfaat Peneliti atau Mahasiswa
Meningkatkan keilmuan di bidang kesehatan dalam rangka memenuhi tuntutan IPTEK.
Manfaat Praktisi
Dapat memberikan masukan yang berarti bagi wanita usia reproduksi sehat dalam meningkatkan pengetahuan tentang Kontrasepsi Hormonal khususnya melalui perseptif motivasi.
Manfaat Teoritis
Dapat memperkaya konsep teori yang menyongsong perkembangan ilmu pengetahuan kebidanan khususnya yang terkenal dengan pengetahuan wanita usia reproduksi sehat Kontrasepsi Hormonal.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.209

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Wanita Usia 35 – 55 Tahun Tentang Kanker Serviks

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Tingginya resiko kematian pada wanita umur 35 – 55 tahun yang menderita kanker serviks merupakan salah satu faktor yang menyebabkan tingginya kematian maternal di negara – negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut WHO tahun 2005 di beberapa negara ASEAN menyebutkan bahwa secara nasional angka kematian wanita yang berusia 35 – 55 tahun adalah 215 per 100.000 jiwa, ini berarti setiap 1 jam ada wanita yang meninggal karena kanker serviks.( www.dkk bontang.com/diakses tanggal 26 juni)
Menurut kapita selekta kedokteran jilid 1 penyebab langsung karsinoma uterus belum diketahui. Faktor ekstrimik yang diduga berhubungan dengan insiden karsinoma serviks uteri adalah smeqma, inveksi Virus Human Papilioma Virus (HPV) dan spermatozoa. ( Kapita Selekta Kedokteran : 2001 )
Saat wanita di diagnosa kanker serviks jalan terbaik untuk menanggulangi kanker agar tidak menyebar keseluruh tubuh adalah berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan. Di pada tahun 2004 ada 112 wanita yang mengidap kanker serviks. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari beberapa tahun yang lalu ( www.dinkes com/diakses tanggal 25 juni )
Diagnosa dini kanker serviks yang merupakan tingkat pendahuluan kanker serviks serta penanganannya perlu dilaksanakan untuk menurunkan angka kematian wanita. Mencegah terjadinya kanker serviks dengan cara melakukan tes pap smear secara rutin dan teratur.
Di Puskesmas Kecamatan jumlah wanita yang terkena kanker serviks pada tahun 2008 sebanyak 28 wanita.

Pembatasan dan Rumusan Masalah.
Pembatasan adalah berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas maka pembatasan dan rumusan masalah yang muncul adalah sebagai berikut :
Seberapa besar pengetahuan wanita usia 35 – 55 tahun tentang kanker serviks di Desa  Kecamatan Kabupaten ? “

Tujuan Penelitian.
Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan wanita usia 35 – 55 tahun tentang kanker serviks.

Manfaat Penelitian.
Bagi Profesi.
Untuk meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan mutu pelayanan pada seluruh wanita usia 35 – 55 tahun, terutama kejadian kanker serviks yang berkaitan dengan pendidikan.
Bagi Masyarakat.
Untuk menambah pengetahuan atau pemahaman masyarakat tentang kanker serviks (motivasi, edukasi).
Bagi Ilmu Pengetahuan.
Bagi ilmu pengetahuan, hasil dari penelititan ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan, pertimbangan dan perbandingan bagi peneliti berikutnya dalam upaya mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang Kebidanan dan Kandungan untuk menurunkan angka kematian wanita.
Bagi Institusi
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan evaluasi yang berkaitan dengan pengetahuan wanita usia 35 – 55 tahun terhadap kejadian kanker serviks.
Bagi Peneliti
Sebagai salah satu syarat kelulusan semester akhir akademi kebidanan dan merupakan penerapan dari ilmu yang diperoleh selama proses pembelajaran, sehingga menambah pengetahuan peneliti dalam melakukan penelitian.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.208

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur Tentang Alat Kontrasepsi IUD


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Dari hasil sensus penduduk tahun 2009 dikemukakan bahwa penduduk Indonesia mencapai 231 juta jiwa. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia pertahun sebesar 1,29%. Berdasarkan penilaian United Nations Development Program (UNDP) pada tahun 2005, kualitas sumber daya manusia yang diukur melaui indeks pembangunan. Manusia telah menempatkan Indonesia pada urutan peringkat 110 dari 177 negara. Kondisi ini akan semakin terpuruk jika program pembangunan yang disiapkan pemerintah tak mampu menyentuh seluruh masyarakat. Itu sebabnya pemerintah pusat perlu terus memberikan perhatian terhadap program KB. Tujuannya adalah untuk menekan laju pertumbuhan penduduk agar program pembangunan bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. (Humaniraya, 2009).
Menurut WHO (World Health Organisation) expert Committee 1970: keluarga berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga (Suratun, 2008).

Menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan UNFPA (2005) dan pelaksanaan program KB masih mengalami beberapa hambatan. Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003, masih sekitar 40% Pasangan Usia Subur (PUS) yang belum menjadi akseptor KB (Saroha, 2009).
Berdasarkan data survey demografi dan kesehatan Indonesia pada tahun 2007 pengguna kontrasepsi IUD menduduki peringkat ke empat, dari sejumlah 746.702 peserta KB dan yang menggunakan IUD sebanyak (2,74%) (BKKBN, 2007).
Berdasarkan hasil survey Demografi dan Kesehatan di indonesia tahun 1994, pemakai IUD yang tertinggi adalah Bali (41,1 %) disusul Yogyakarta dan Sulawesi Utara. Secara nasional program KB menargetkan pencapaian akseptor pada tahun 1985 sebesar 60 %. Bali sebagai bagian wilayah Indonesia juga melaksanakan program KB secara resmi sejak tahun 1970. Pada tahun 2002 telah tercapai 75 % melebihi target nasional yakni 60% (Stratfield, 2002).
Dari rekapitulasi laporan pengendalian program KB nasional tingkat Provinsi Sumatera Utara pada bulan januari tahun 2009 diketahui bahwa dari 2.041.398 Pasangan Usia Subur, terdiri dari peserta KB aktif sebanyak 1.309.498 Pasangan Usia Subur (64,14%), dan Pasangan Usia Subur yang bukan merupakan peserta KB sebanyak 731.900 Pasangan Usia Subur (35,85%), yang menggunakan kontrasepsi IUD sebanyak 137.321 Pasangan Usia Subur (10,48%) (BKKBN, 2009).
Di kota Medan bulan Oktober tahun 2009 diketahui bahwa dari 50.361 Pasangan Usia Subur, terdiri dari peserta KB aktif sebanyak 38.222 Pasangan Usia Subur (75,89%), dan Pasangan Usia Subur yang bukan merupakan peserta KB sebanyak 12.139 Pasangan Usia Subur (24,10%), yang menggunakan kontrasepsi IUD sebanyak 1.524 Pasangan Usia Subur (3,98%). (Moehqadri, 2009).
Angka kesuburan total atau TFR di Indonesia turun dari 5,6% menjadi 2,6%. Tahun 2002 sampai 2003 menurut BPS (Biro Pusat Statistik), DepKes, 2003. Sebagai aspek kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan banyak yang belum terpenuhi karena ketidak tersediaan konseling dan pelayanan KB yang merupakan hal terpenting dalam menurunkan resiko. Pada tahun 2003 yaitu 2/3 atau (66,67%) perempuan menikah di Indonesia menggunakan kontrasepsi modern atau IUD/AKDR 14,8%, (Departemen Kesehatan, 2009).
IUD atau Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah satu alat kontrasepsi modern yang telah dirancang sedemikian rupa (baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa aktif fungsi kontrasepsinya), bentuknya bermacam-macam. IUD adalah alat kontrasepsi yang efektiftasnya sangat tinggi, yaitu 0,6-0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama pemakaian, 1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan (Hidayati, 2009).
Dari survey awal yang dilakukan peneliti di .... Desa Kecamatan Kabupaten pada bulan april tidak di dapati Pasangan Usia Subur yang menggunakan alat kontrasepsi IUD, kebanyakan Pasangan Usia Subur memakai alat kontrasepsi suntik sebanyak 55 orang (62,5%), yang menggunakan pil sebanyak 23 orang (26,13%), yang menggunakan alat kontrasepsi koitus interuptus sebanyak 2 orang (2,27%) dan yang menggunakan MOW/MOP sebanyak 8 orang (9,1%).
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur Tentang Alat Kontrasepsi IUD” di Desa Kecamatan Kabupaten Tahun .

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis dapat merumuskan masalah “Bagaimana Gambaran Pasangan Usia Subur Tentang Alat Kontrasepsi IUD di Desa .... Kecamatan Kabupaten Tahun .

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui sejauh mana Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur Tentang Alat Kontrasepsi IUD di Desa .... Kecamatan Kabupaten Tahun .
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur tentang Alat Kontrasepsi IUD berdasarkan Umur di Desa .... Kecamatan Kabupaten .
2. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur tentang Alat Kontrasepsi IUD berdasarkan Pendidikan di Desa .... Kecamatan Kabupaten .
3. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur tentang Alat Kontrasepsi IUD berdasarkan Paritas di Desa .... Kecamatan Kabupaten . .
4. Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Pasangan Usia Subur tentang Alat Kontrasepsi IUD berdasarkan Sumber Informasi di Desa Kecamatan Kabupaten .

1.4. Manfaat Penelitian
1. Bagi Tempat Penelitian
Sebagai masukan dan informasi kepada perangkat Desa untuk lebih berperan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan di Desa Kecamatan Kabupaten tentang pemakaian
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Yaitu diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menjadi masukan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan tentang alat Kontrasepsi IUD.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Yaitu untuk bahan bacaan dan masukan bagi mahasiswi Akademi Kebidanan tentang Alat Kontrasepsi IUD.

4. Bagi Peneliti
Yaitu untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama mengikuti pendidikan.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.207

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Tentang Perawatan Payudara


BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang.
Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu.(Sarwono, 2003)
Payudara adalah perlengkapan organ reproduksi wanita dan pada masa laktasi akan mengeluarkan air susu. Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari Air Susu Ibu (ASI) sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Pada masa hamil terjadi perubahan pada payudara di mana ukuran-ukuran payudara bertambah besar (Depkes RI. 2005).
Bagi seoarang wanita payudara adalah organ tubuh yang sangat penting bagi keberlangsungan perkembangan bayi yang baru di lahirkannya. Payudara memang secara natural akan mengeluarkan ASI begitu ibu melahirkan, tetapi bukan berarti seorang wanita atau ibu tidak patut merawat payudara. (Sariyono – Roscha dyah pramitasari, 2009)
Perawatan payudara setelah melahirkan bertujuan agar payudara senantiasa bersih dan mudah di hisap oleh bayi. Banyak ibu yang mengeluh bayinya tidak mau menyusu, bisa jadi ini di sebabkan oleh faktor teknis seperti puting susu yang masuk atau posisi yang salah. Selain faktor teknis ini tentunya Air Susu Ibu juga di pengaruhi oleh asupan nutrisi dan kondisi psikologis ibu. (Sariyono – Roscha dyah pramitasari, 2009)



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.206

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemenuhan Gizi Pada Anak Retardasi Mental


BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Retardasi mental bukan merupakan suatu penyakit, melainkan suatu kondisi yang mempunyai penyebab berbeda-beda. Penyebab retardasi mental dapat dikatagorikan dalam 3 katagori, yaitu yang bersifat organobiologik, psikoedukatif dan sosio kultural. Penyebab organobiologik, misalnya : berat badan, usia kelahiran, posisi bayi dalam kandungan, penyakit campak waktu bayi, kekurangan fenilalanin, dan lain-lain. Penyebab psiko edukatif berkaitan dengan kurangnya stimulasi dini, lingkungan yang tidak memacu perkembangan otak, terutama pada tiga tahun pertama. Penyebab sosiobudaya berfokus pada perbedaan variabel sosioekonomibudaya; prevalensi penderita retardasi mental lebih besar pada keluarga dengan tingkat sosioekonomi rendah. (Siti Isfandari dan Ekowati Rahajeng, 2007).
Orang-orang yang secara mental mengalami keterbelakangan, memiliki perkembangan kecerdasan (intelektual) yang lebih rendah dan mengalami kesulitan dalam proses belajar serta adaptasi sosial.
Tingkat kecerdasan ditentukan oleh faktor keturunan dan lingkungan.
Pada sebagian besar kasus retardasi mental, penyebabnya tidak diketahui; hanya 25% kasus yang memiliki penyebab yang spesifik. (Medicastore, 2008)

`Banyak anak-anak dengan retardasi mental lahir dengan abnormalitas fisik, seperti daya pendengaran yang lemah, atau masalah jantung. Mereka ini beresiko tiga sampai empat kali lebih tinggi untuk mengidap gangguan mental lainnya seperti ketidakmampuan belajar dan mengompol dari pada populasi umum. (Yulius dan Iva, 2008)
Prevalensi retardasi mental sekitar 1 % dalam satu populasi. Di indonesia 1-3 persen penduduknya menderita kelainan ini. Insidennya sulit di ketahui karena retardasi metal kadang-kadang tidak dikenali sampai anak-anak usia pertengahan dimana retardasinya masih dalam taraf ringan. Insiden tertinggi pada masa anak sekolah dengan puncak umur 10 sampai 14 tahun. Retardasi mental mengenai 1,5 kali lebih banyak pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. (Idmgarut, 2009)
Menurut data dari sampai bulan Juni jumlah siswanya 52 anak, dan di dapat 96 % (50 anak) yang menderita retardasi mental.
Ternyata gangguan gizi yang berat dan yang berlangsung lama sebelum umur 4 tahun sangat memepngaruhi perkembangan otak dan dapat mengakibatkan retardasi mental. Keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki gizi sebelum umur 6 tahun, sesudah ini biarpun anak itu dibanjiri dengan makanan bergizi, intelegensi yang rendah itu sudah sukar ditingkatkan. (Idmgarut, 2009)
Wainer (1978) menggolongkan penyebab retardasi mental dalam 2 golongan, yaitu : familial retardation dan penyebab organobiologis. Dalam familial retardation tidak ditemukan ketidak normalan biologis, namun ada sejarah keluarga bahwa satu atau kedua orang tuanya mengalami retardasi mental. Belum diketahui apakah familial retardation disebabkan karena faktor genetik atau pengalaman diasuh orarg tua yang mengalami retardasi mental. Seperti yang telah dikatakan familial retardation tidak mempunyai sebab biologis yang jelas. IQ mereka berkisar antara 50 sampai 69 serta mempunyai sejarah keluarga yang mengalami retardasi mental, tapi penyebab khususnya tidak diketahui.
Berdasarkan pada data informasi diatas, maka bidan sebagai edukator perlu memberikan pendidikan dan penyuluhan tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental. Berdasarkan fenomena diatas peneliti tertarik mengadakan penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemenuhan Gizi Pada Anak Retardasi Mental”.

Pembatasan dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti membatasi hanya sebatas tahu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana gambaran pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental ?”

Tujuan Penelitian
Mengetahui pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental di.

Manfaat Penelitian
Bagi Peneliti
Penelitian ini dipakai sebagai dasar bagi penulis untuk mengetahui seberapa besar tingkat pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.
Bagi Institusi Penelitian
Memberikan masukan institusi kesehatan tentang tingkat pengetahuan ibu tentang pemenuhan gizi pada anak retardasi mental.
Bagi Responden
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai masukan dalam menyelesaikan masalah gizi yang ada saat ini, khususnya menambah pengetahuan ibu yang mempunyai anak retardasi mental di.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.205

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian Makanan Tambahan Pada Bayi Umur 6-12 Bulan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap keluarga pasti menginginkan untuk mempunyai bayi yang sehat dan cerdas supaya di kemudian hari bayi tersebut tumbuh menjadi generasi penerus yang berguna bagi orang tua, bangsa dan negara. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal itu adalah dengan memberikan makanan yang terbaik untuk bayi sejak dini (Tuti, 2000)
ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi, karena ASI mengandung hampir semua zat gizi dengan komposisi sesuai kebutuhan bayi. Walaupun ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi dengan bertambahnya umur, bayi yang sedang tumbuh memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah yang didapat dari ASI Pada umumnya setelah bayi berumur 4-6 bulan ASI sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, dengan demikian bayi memerlukan energi tambahan. (Paath, 2004:104).
Sejak tahun 2006, World Health Organitation (WHO) mencatat jumlah ibu yang memberi MP-ASI di bawah usia 2 bulan mencakup 64% total bayi yang ada, 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-6 bulan. Dari penelitian terhadap 900 ibu di sekitar Jabotabek diperoleh fakta bahwa yang memberikan MP-ASI pada bayi umur 4 bulan sekitar 55%. Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa 37,9 % dari ibu-ibu tidak pernah mendapatkan informasi khusus tentang MP-ASI (Roesli, 2000:2).
Data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur menyebutkan selama tahun 2007 dari total. 11,01 bayi yang diperiksa terdapat 10.071 bayi sudah diberi MP-ASI sebelum berusia 6 bulan (Anonim, 2007). Sedangkan data dinas kesehatan Banyuwangi bagian kesehatan keluarga didapatkan data cakupan pemberian MP-ASI sebelum bayi berumur 6 bulan sebesar 61,93 %. Di desa wringinpitu yang merupakan wilayah puskesmas Tegaldlimo terdapat 55 bayi yang berumur 6-12 bulan. 72,7% (40 bayi) sudah diberi makanan tambahan sebelum berumur 6 bulan, sisanya 27,3 (15 bayi) di beri makanan tambahan setelah umur 6 bulan.
Makanan tambahan harus diberikan pada umur yang tepat sesuai kebutuhan dan daya cerna bayi. Adanya kebiasaan masyarakat untuk memberikan nasi, pisang pada umur beberapa hari ada bahayanya, karena saluran pencernaan pada bayi belum sempurna. Makanan tambahan sebaiknya diberikan pada umur 6 bulan karena sistem pencernaannya sudah relatif sempurna. (Soraya, 2005).
Oleh sebab itu maka bidan sebagai edukator perlu memberikan pendidikan atau penyuluhan tentang pemberian makanan tambahan yang benar sehingga bayi bisa tumbuh kembang secara normal.
Berdasarkan fenomena di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang “ Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian Makanan Tambahan Pada Bayi Umur 6-12 Bulan di Desa Wringinpitu Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi”.

B. Pembatasan dan Rumusan Masalah
Dari beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan, peneliti membatasi pada Tingkat tahu tentang pemberian makanan tambahan pada bayi umur 6-12 bulan.
Berdasarkan latar belakang diatas penelti merumuskan masalah sebagai berikut “Bagaimanakah Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian Makanan Tambahan Pada Bayi Umur 6-12 Bulan di Desa Wringinpitu Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi Tahun

C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang pemberian makanan tambahan pada bayi umur 6-12 bulan di Desa Wringinpitu Kecamatan Tegaldlimo Kabupaten Banyuwangi Tahun

D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis.
Penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengetahui secara spesifik mengenai tingkat pengetahuan ibu tentang pemberian makanan tambahan.
2. Secara Praktis.
Meningkatkan kualitas pengetahuan kesehatan khususnya pemberian makanan tambahan..
3. Bagi Peneliti
Meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengalaman nyata bagi peneliti dalam proses penelitian.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.204

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 bulan


BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bila setiap orang tua mampu menyadari akan pentingnya ASI eksklusif bagi bayi yang dilahirkan, maka masa depan generasi mendatang akan lebih baik dan berguna bagi orang tua, bangsa dan negera. Salah satunya untuk mewujudkan hal itu adalah dengan memberikan ASI eksklusif sejak dini. ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan lain, dan tanpa tambahan makanan lain yang diberikan pada bayi sampai umur 6 bulan (Dinkes, 2008). ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi dan di produksi khusus oleh tubuh ibu untuk bayinya. Agar ASI cepat keluar maka dianjurkan bayi disusui dalam 30 menit pertama setelah dilahirkan. Komposisi ASI yang sesuai untuk kebutuhan bayi dan mengandung Zat pelindung dengan kandungan terbanyak ada pada kolustrum. Kolustrum adalah ASI yang berwarna kekuningan yang dihasilkan tiga hari pertama setelah bayi lahir.
Banyak penelitian yang membuktikan bahwa Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik dan utama bagi bayi, karena didalam ASI terkandung antibodi yang diperlukan bayi untuk melawan penyakit-penyakit yang menyerangnya. Pada dasarnya ASI adalah imunisasi pertama karena ASI mengandung berbagai zat kekebalan antara lain imunoglobin. Bayi yang tidak mendapat ASI beresiko terhadap infeksi saluran pernafasan (seperti batuk, pilek) diare dan alergi (Soekirman, 2006: 48-51). Namun saat ini pemberian ASI eksklusif semakin menurun, penyebab menurunnya pemberian ASI eksklusif adalah kurangnya pengetahuan ibu tentang pentingya pemberian ASI eksklusif, pemasaran susu formula, faktor sosial, ekonomi. Selain itu juga masih banyak masyarakat yang suka memberi MP-ASI terlalu dini (Agnes, 2007).
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatana Indonesia (SDKI) tahun 2007-2008 pemberian ASI eksklusif pada bayi berumur 2 bulan hanya 64%. Prosentase ini menurun dengan jelas menjadi 45% pada bayi berumur 2-3 bulan dan 14% pada bayi berumur 4-5 bulan. Hanya 40% bayi mendapatkan ASI dalam satu jam kelahiran sedangkan pemberian ASI eksklusif di kota Surabaya dari 15.983 bayi berusia 6 bulan, hanya 3.302 bayi diantaranya yang mendapat ASI. Baru sekitar 20,66% bayi mendapat ASI secara eksklusif (Ririn Nur Febriani, 2009).
Dari data Dinas Kesehatan Banyuwangi bagian Kesehatan Keluarga didapatkan data cakupan ASI eksklusif sebesar 61,93%, dan Puskesmas Grajagan terdapat 50 bayi yang berumur 0-6 bulan hingga saat ini ibu yang menerapkan ASI eksklusif hanya 40% dari target yang sudah ditentukan.
Pada dasarnya saat ini banyak ibu yang memberikan pengganti ASI sebelum bayi berumur 6 bulan. Seharusnya pemberian ASI paling baik diberikan sampai umur 6 bulan tanpa tambahan makanan apapun. Jika dipaksa untuk mengonsumsi selain ASI tidak menutup kemungkinan bayi bisa sakit. Hal ini dikarenakan dapat mengakibatkan kekebalan bayi menurun. Padahal pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama terbukti menurunkan angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian ibu (AKI) yang merupakan indikator kesehatan (Kompas, 2007).
Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah membuat program-program yang dapat mendukung penggunaan ASI eksklusif antara lain melalui pemberian pendidikan kesehatan tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada masyarakat. Penelitian-penelitian yang dapat menunjang program pemberian ASI eksklusif seperti tentang komposisi ASI juga terus dilakukan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang ”Pengetahuan Ibu Tentang Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Umur 0-6 bulan di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi”.

B. Pembatasan Dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas banyak sekali faktor yang mempengaruhi pengetahuan ibu, maka dari itu peneliti membatasi pada tingkat tahu.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimanakah pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi?

C. Tujuan Penelitian
Dari uraian pembatasan dan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif pada bayi umur 0-6 bulan di Puskesmas Grajagan Kecamatan Purwoharjo Kabupaten Banyuwangi.

D. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
Penelitian ini sangat bermanfaat untuk mengetahui secara spesifik mengenai pengetahuan ibu tentang pemberian ASI eksklusif.
2. Secara Praktis
Meningkatkan kualitas pengetahuan kesehatan khususnya tentang pemberian ASI eksklusif.
3. Bagi Peneliti
Penelitian ini sebagai sarana untuk belajar menerapkan teori yang telah diperoleh dalam bentuk nyata dan meningkatkan daya berpikir dalam menganalisa suatu masalah.



Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.203

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran pengetahuan Ibu Tentang Biang Keringat Pada Bayi 0-1 tahun


BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah
Bidan harus mengetahui lebih banyak tentang penyakit kulit, karena tidak dapat disangkal bahwa penyakit kulit pada anak sering dijumpai. Walaupun belum ada angka statistik yang membandingkan frekuensi penyakit kulit pada anak, namun diberbagai poliklinik Dinas Kesehatan Kota dan Kabupaten dibuat kesimpulan bahwa sekitar 20% adalah kasus penyakit kulit pada anak. Data terpenting yang harus diperhatikan oleh seorang yang bukan ahli penyakit kulit, yaitu cara membuat diagnosis serta memahami prinsip pengobatan sebaik-baiknya, agar jangan sampai timbul komplikasi karena obat atau cara pengobatan yang salah (FKUI/2005).
Kulit bayi memang bisa dikatakan sangatlah sensitif, beberapa kendala yang memang dihadapi ada timbulnya biang keringat di bagian kulit bayi dimana rentanya timbulnya di beberapa bagian seperti pada punggung bayi, bagian kulit leher bayi yang terkadang menimbulkan iritasi akibat dampak keringat yang kurang kita perhatikan sehingga kerap kali bayi merasakan gatal pada kulit dan tentunya dalam memilih bedak bayi ada beberapa point yang harus anda perhatikan Kulit juga merupakan organ tubuh terluar yang terus menerus terpajan dengan lingkungan luar sehingga senantiasa aktif mengadakan penyesuaian diri dengan berbagai perubahan lingkungan. Keadaan makroskopis dan

mikroskopis kulit mencerminkan kesehatan individu dan berbeda-beda sesuai dengan umurnya. Kulit pada neonatus (bayi < style="">(aging process).
Selain itu, keadaan kulit juga merupakan 'cermin' kesehatan tubuh seseorang. Para orang tua kini semakin menyadari bahwa menjaga kesehatan kulit anak sama pentingnya dengan menjaga kesehatan anak. Dan untuk menjaga kesehatan kulit ini, diperlukan perawatan rutin sejak usia dini. Perawatan rutin kulit juga mengekspresikan rasa cinta seorang ibu pada buah hatinya. Telah dibuktikan bahwa sentuhan ibu akan sangat berpengaruh pada perkembangan fisik dan mental seorang anak (FKUI/2005).
Prelevansi penyakit kulit di Indonesia cukup tinggi baik oleh bakteri, virus atau jamur. Selain itu bergantung pada lingkungan dan kondisi setiap individu. Trauma kecil atau ringan dapat menyebabkan tempat masuknya mikroorganise ke kulit (FKUI/2005).
Salah satu penyakit kulit pada bayi adalah miliaria (biang keringat). Biang keringat dapat dijumpai pada bayi cukup bulan maupun premature, pada minggu-minggu pertama pasca kelahiran. Kemungkinan disebabkan oleh sel-sel pada bayi yang belum sempurna sehingga terjadi sumbatan pada kelenjar kulit yang mengakibatkan retensi keringat. Biang keringat terjadi pada sekitar 40% bayi baru lahir. Menetap beberapa minggu dan menghilang tanpa pengobatan. Penanggulangan biang keringat cukup dengan mandi memakai sabun, mengatur agar suhu lingkungan cukup sejuk, sirkulasi (ventilasi) yang baik serta memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat. Pemakaian bedak tabur dapat juga membantu, namun bila inflamasinya hebat, pemakaian cream hidrokortison 1% dapat mengatasinya.
Berdasarkan hasil presurvey pada bulan Maret 2008, terdapat 76 ibu yang mempunyai bayi berumur 0-1 tahun mengikuti imunisasi di BPS Suprihartini desa Garahan kecamatan Silo kabupaten Jember”., di ambil 25% dari 76 orang ibu tersebut untuk dibagikan kuisioner. Dari hasil kuisioner ada 8 (40%) orang ibu yang memiliki pengetahuan baik, 7 (35%) orang ibu memiliki pengetahuan cukup dan 5(25%) orang ibu yang memiliki pengetahuan kurang mengenai biang keringat.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengetahuan Ibu Tentang Biang Keringat Pada Bayi 0-1 tahun pada bulan Juli - Agustus di BPS Suprihartini Desa Garahan Kecamatan Silo Kabupaten Jember”.

Pembatasa dan Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah tentang Bagaimanakah Pengetahuan Ibu Tentang Biang Keringat Pada Bayi 0-1 Tahun di BPS Suprihartini Desa Garahan Kecamatan Silo Kabupaten Jember?

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu tentang biang keringat pada bayi 0-1 tahun di BPS Suprihartini desa Garahan kecamatan Silo kabupaten Jember.

Manfaat Penelitian
Manfaat Praktisi
Dapat menambah pengetahuan dan pemahaman ibu tentang biang keringat sehingga dapat mengatasinya dengan benar.
Manfaat Teoritis
Dapat memperkaya konsep atau teori yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan Kebidanan khususnya yang terkait dengan pengetahuan ibu tentang biang keringat.
Manfaat Diri Sendiri
Dapat meningkatkan pengetahuan khususnya tentang biang keringat.


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.202

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI

Gambaran Pengetahuan Ibu Primigravida Tentang Perubahan Fisiologis Pada Masa Kehamilan


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah jumlah kematian ibu karena kehamilan, persalinan, dan nifas pada tiap 1000 kelahiran hidup dalam wilayah dan waktu tertentu. Saat ini Angka Kematian Ibu di seluruh dunia masih cukup tinggi estimasi WHO tahun 2000 tentang AKI (Maternal Mortality Ratio/MMR per 100.000 kelahiran hidup) adalah sebagai berikut, di seluruh dunia sebesar 400, di negara industri angka kematian ibu cukup rendah yaitu sebesar 20, di Eropa sebesar 24. Untuk negara berkembang angka kematian ibu masih cukup tinggi yaitu sebesar 440 per 100.000, di Afrika sebesar 830 per 100.000, di Asia sebesar 330 per 100.000 dan Asia Tenggara sebesar 210 per 100.000 (WHO, 2004). Untuk negara-negara ASEAN, AKI (per 100.000 kelahiran hidup) sangat bervariasi seperti Malaysia, Brunei Darusalam, Singapura, Kamboja, Laos, Philipina dan lain-lain (Depkes RI, 2004).
Di Indonesia angka kematian ibu masih cukup tinggi walaupun terjadi penurunan dari 425 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 390 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1994 dan terjadi penurunan sekitar 25 persen dari 450 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1996 menjadi 334 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 (Data Survei Demografi Kesehatan Indonesia, 1997). Namun angka tersebut masih tinggi atau 3-6 kali lebih besar dibandingkan negara-negara ASEAN, angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100.000 kelahiran hidup pada SDKI 2002-2003 atau setiap jam terdapat 2 orang ibu bersalin meninggal dunia karena berbagai sebab dan target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup (www.google.com, 2006).
Di Provinsi cenderung terjadi peningkatan AKI sebesar 143 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1997 menjadi 153 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2002 (Dinkes Provinsi 2003) dan pada tahun 2003 angka kematian ibu sebesar 98 orang dari 186.248 jiwa (Dinkes Provinsi 2004)
Kehamilan merupakan suatu proses yang dialami oleh seluruh wanita yang ada di dunia. Dalam melewati proses kehamilan seorang wanita harus mendapatkan penatalaksanaan yang benar, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap morbiditas dan mortalitas ibu, hal tersebut terbukti dari angka kematian ibu masih tinggi di negara kita yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup (Survey Demografi dan kesehatan Indonesia, 2002/2003) dengan keadaan tersebut memacu kita untuk memberikan penatalaksanaan yang benar pada saat kehamilan. Asuhan pada kehamilan normal ini diperlukan karena masa ini adalah masa kritis pada ibu hamil disebabkan adanya komplikasi pada kehamilan (Syaifudin, 2001 : hal 87).
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil (normal adalah 280 hari ( 40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dimulai dari 4 bulan sampai 6 bulan, triwulan ketiga dari bulan 7 sampai 9 bulan (Buku acuan nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2001).
Pada wanita hamil atau ibu yang sedang hamil penjelasan mengenai perubahan alat kandungan sangatlah penting dan perlu, oleh karena masih banyak ibu atau wanita yang sedang hamil belum mengetahui tentang perubahan-perubahan yang ada pada diri mereka, baik alat kandungan yang berada di dalam ataupun yang ada di luar. Maka dari itu peran dari bidan sangatlah penting dan dibutuhkan untuk menjelaskan tentang perubahan yang terjadi pada tubuh ibu atau wanita yang sedang hamil dan juga memberikan pelayanan kesehatan Bio psikologis, sosial dan spiritual tanpa membedakan suku, ras, agama, terutama pada ibu hamil yang belum mengetahui tentang perubahan fisiologi alat kandungan serta ibu hamil yang mengalami kelainan pada alat kandungannya. Perubahan wanita hamil antara lain: meliputi perubahan pada uterus, perubahan pada kulit, perubahan payudara, perubahan sirkulasi darah, perubahan sistem respirasi, perubahan tractus digestivus, dan perubahan traktus urinarius (Sarwono Prawirohardjo, 1999: hal 31).
Apabila ibu hamil primigravida sudah mengerti tentang perubahan fisiologis yang terjadi pada masa kehamilan maka rasa takut dan cemas selama hamil dapat dihindari dan apabila terdapat suatu kelainan pada kehamilan, ibu akan mengerti dan segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan, sebaliknya jika ibu hamil tidak mengerti perubahan fisiologis yang terjadi pada masa kehamilan seorang ibu akan merasa cemas dan takut akan perubahan yang terjadi pada tubuhnya selama hamil. Salah satu hal yang dapat dilakukan agar ibu hamil memahami perubahan fisiologis yang terjadi pad masa kehamilan adalah dengan pemeriksaan antenatal care.
Akses terhadap pelayanan antenatal sebagai pilar kedua safe motherhood cukup baik yaitu 87% pada tahun 1997, namun mutunya perlu ditingkatkan terus (Saifudin, 2001). Diharapkan dengan program kesehatan tersebut dapat meningkatkan kesehatan ibu dan janin sehingga kehamilan berlangsung secara fisiologis tanpa adanya penyulit atau komplikasi. Jika semua kehamilan berlangsung secara fisiologis maka kematian karena komplikasi selama kehamilan dapat berkurang dengan kehamilan secara fisiologis, diharapkan ibu mengerti tentang perubahan fisiologis kehamilan.
Berdasarkan hasil pra survey yang penulis lakukan, terdapat 15 orang ibu hamil primigravida yang mengeluh mual, muntah, pusing, sering kencing dan kebanyakan terjadi pada Trimester satu. Dimana hal tersebut merupakan perubahan fisiologis pada masa kehamilan. Kejadian tersebut menunjukan bahwa ibu hamil khususnya ibu hamil primigravida belum faham mengenai perubahan fisiologis yang terjadi pada dirinya.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Gambaran pengetahuan ibu primigravida tentang perubahan fisiologis pada masa kehamilan”.


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis dapat merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: “Bagaimana pengetahuan ibu primigravida terhadap perubahan fisiologis pada masa kehamilan?”.

C. Ruang Lingkup Pengetahuan
Adapun yang menjadi ruang, dari penelitian pengetahuan ibu Primigravida terhadap perubahan fisiologi pada masa kehamilan ini adalah :
1. Jenis Penelitian : deskriptif
2. Obyek Penelitian : pengetahuan ibu primigravida tentang perubahan fisiologis pada masa kehamilan.
3. Subyek Penelitian : ibu hamil primigravida yang memeriksakan diri di BPS. pada tahun
4. Lokasi Penelitian : BPS. 
5. Waktu Penelitian : April-Mei
6. Alasan Penelitian : ibu hamil primigravida yang kurang memahami tentang perubahan fisiologis selama kehamilannya.

D. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengetahuan ibu primigravida terhadap perubahan fisiologi pada masa kehamilan di BPS



E. Manfaat penelitian
1. Bagi ibu hamil
Menambah pengetahuan ibu primigravida terhadap perubahan fisiologi pada kehamilan sehingga dapat mengurangi tingkat kecemasan ibu dan mampu melakukan tindakan yang sesuai dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.
2. Bagi tempat peneliti
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat bagi pengelola program di BPS. yaitu memberikan masukan agar dapat meningkatkan pelayanan kehamilan seoptimal mungkin di wilayah kerjanya dalam rangka peningkatan profesionalisme kerja dan pengabdian kepada masyarakat.
3. Bagi masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat diberikan pengetahuan kepada masyarakat terutama ibu hamil atau wanita yang sedang hamil terhadap perubahan fisiologis pada kehamilan sehingga nantinya mereka mampu melakukan tindakan yang sesuai dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.
4. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana daya pemahaman atau daya kemampuan untuk mengerti dari mata kuliah yang telah disampaikan oleh dosen. Serta nantinya dapat menjadi tambahan bahan kepustakaan di perpustakaan AKBID
5. Bagi Peneliti
Penelitian ini untuk menambah pemahaman penulis mengenai perubahan fisiologis pada kehamilan dan penerapan secara langsung teori pembuatan karya tulis ilmiah sesuai dengan teori yang diajarkan sewaktu kuliah dan sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di Akademi Kebidanan


Download KTI Skripsi Kebidanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran No.201

untuk melihat kelengkapan isi KTI Skripsi silahkan KLIK DISINI